Aku mulai menghitung serpihan embun
Yang sejak kemarin menggugur di taman hati
Sempat sebelumnya hanyalah kabut
Namun kehadiranmu sibakkan fajar
Mengubah kabut menjadi embun
Mengubah gelap menjadi gerlap
Mengubah redup menjadi terik
Mengubah kelabu menjadi pelangi
Oleh: Inu Anwardani
Pada hati yang tertikam
Ada derai yang tertahan
Ada duka yang menghujam
Butiran tasbih memintal Asma
Hadir deru gebu di sana
Merintih pada selaksa cinta
Berwujud amanah yang himpit dada...
Pada hati yang tertikam
Ada derai yang tertahan
Ada duka yang menghujam
Butiran tasbih memintal Asma
Hadir deru gebu di sana
Merintih pada selaksa cinta
Berwujud amanah yang himpit dada...
Satu demi satu, kukulum hijaiyah-hijaiyah yang terangkai pada mushaf. Kuucap lantun-lantun Kebenaran-Nya pada Kitab Suci. Kucium Quran-ku dengan syahdu. Hening. Khusyuk. Lirih. Pada Ayat-ayat Cinta-Nya, tertabur hatiku menyemai di ladang takwa, berharap kan tumbuh bibit-bibit keimanan segera kutuai.
Oleh: Inu Anwardani
Pagi ini aku ingin menulis sesuatu. Secarik yang sengaja kutulis teruntuk seseorang yang telah membesarkanku dengan penuh arti. Dengan pengorbanan yang sungguh tiada tepi. Seseorang, yang di dalam hatinya tersemat kebahagiaan besar jika buah hatinya bisa meraih mimpinya. Seseorang yang dengan wajah tegar mampu menopang banyak beban meski dalam jerit kehidupan. Seseorang yang senantiasa menyuguhkan kasih sayang yang sempurna, kasih sayang yang dengan lantang tak terbantahkan. Ya, sesosok itu adalah ibuku.
Aku percaya pada datangnya cinta ketika tatapan pertama. Aku sering merasakannya. Betapa mudahnya aku mencintai seseorang hanya dengan melihat, memperhatikan, dan berpapasan. Aku tak tahu, inikah bentuk lain dari cinta ataukah hanya kekaguman biasa. Tapi, bagiku bisa menikmati sejenak cinta yang bersemi meski dalam semenit itu adalah anugerah.
Siapa yang mengetahui?Sesungguhnya ada yang tersimpan di siniLayaknya himpunan pada semestaNama itu perlahan mulai kujagaBerawal dari butir senyumKemudian menderet pada rasio kagumTiada terdefinisikanTutur rindu, hatiku terkombinasikanMembuncah harap pada satu namaBagai volume yang memenuhi ruang bendaMenyulam titik-titik kasih sayangSesak cintaku menuju ketakhinggaanIngin mengungkapkan rasanya engganTapi nurani kembali bertutur ingkaranPada apa persamaan ini kulabuhkan?Hingga dapat kutemukan penyelesaianSecara linear aku mencintainyaNamun secara teorema aku telah melanggar-NyaSejujurnya aku benci pada aksioma-aksiomaYang mengharuskanku membuktikan teoremaTapi aku juga manusiaYang punya invers kepada insan lainnyaAku ingin dekat tapi tidak menyentuhnyaSeumpama garis asimtot yang melukis kurvaAku ingin mengenal dan menyapaSeperti irisan di dalam himpunannyaAku ingin berbatas tapi bisa menghargainyaLayaknya limit yang terbatas namun ada nilainyaAku hanya ingin mengaguminya...Izinkanlah aku membukaJaring-jaring cinta yang mengekangPada rasa yang kusembunyikanAgar cintaku dapat bersembahyang
***
Way Kanan, 11 Maret 2012
Inu Anwardani
Sepertihalnya menulis, membaca juga adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja dipisahkan dari kehidupan. Menulis tanpa membaca merupakan hal fatal karena kita tidak bisa belajar melalui karya-karya banyak orang. Membaca mungkin bisa dilakukan oleh semua orang. Ya, setiap orang bisa menjadi pembaca.
Membaca adalah bentuk apresiasi dari tulisan. Jika
tulisan adalah kehidupan yang tertuang dalam bahasa kata-kata, maka membaca
adalah melihat kehidupan orang lain bersama suasana emosi yang diciptakan
penulisnya. Kerap kali kita membaca sebuah tulisan dan kita tenggelam di
dalamnya. Terkadang kita mengambil pelajaran dari tulisan. Ya, banyak keajaiban
yang hadir dari suatu kegiatan yang bernama “membaca”.
Bagi saya, menulis adalah menuangkan tinta kehidupan
ke dalam kanvas bahasa yang terangkum dalam kata-kata. Oleh karena itu saya
mencintai menulis dan membaca. Ketika saya berkata bahwa tulisan adalah hal
terpenting bagi hidup saya, maka itu berarti bahwa saya tidak bisa dipisahkan
dengan menulis karena tinta kehidupan saya setiap hari harus selalu tertuang.
Menulis itu membahagiakan. Ya, dengan menulis saya bisa mencurahkan segenap apa yang mengganjal sanubari saya. Dengan menulis saya belajar bagaimana menyelesaikan masalah saya. Dengan menulis saya bisa tenggelam dalam lautan emosi yang tanpa sadar tercipta dengan sendirinya. Dengan menulis saya bisa menangis, tertawa, dan juga merenung. Begitu dahsyat yang saya rasakan ketika saya sedang menulis. Seakan saya telah melewati fase kehidupan yang panjang, dan kembali pada garis start begitu tulisan saya terselesaikan. Dan kejadian itu adalah hal yang ajaib bagi saya. Dan itu juga adalah hal yang sangat membahagiakan.
Assalamualaikum, Sahabat? Apa kabar hari ini? Masih antusias menulis, kan? Oke, kali ini saya akan membagikan kepada teman-teman sebuah widget FLP untuk menghias Blog teman-teman. Widget ini saya buat sendiri. Langsung saja, tinggal pilih widgetnya...
Berikut cara memasangnya di Blog: Dasbor > Elemen Halaman > Tambah Elemen > HTML/ JavaScript > Paste-kan script di bawah ini (tinggal pilih widget mana sesuai selera) > Simpan.
Hingga Paragraf Terakhir
Yang Nulis Inu Anwardani Kategori Cerpenku, Curhat, FLP, Motivasi, Pembangun JiwaOleh: Inu Anwardani
Kumasuki kamar yang sudah lama tak kukunjungi itu. Kuhidupkan lampu. Kubuka jendela kamarnya. Terlihat senja sedang bersenandung. Cahaya matahari tengah membiaskan lembayung ke seluruh penjuru langit. Teduh. Sang bayu yang hadir setelah hujan turun membuat dunia seakan berwarna kuning keemasan. Cahaya kuning keemasan itu menyepuh rumah-rumah, pepohonan, jalanan, serta dinding-dinding gedung tinggi perkotaan. Sungguh suasana yang menakjubkan. Di balik jendela ini, kusaksikan Kebesaran Allah yang tergambar dalam ayat kauniah-Nya ketika senja. Maha Suci Engkau...
Langganan:
Entri (Atom)










