Sepertihalnya menulis, membaca juga adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja dipisahkan dari kehidupan. Menulis tanpa membaca merupakan hal fatal karena kita tidak bisa belajar melalui karya-karya banyak orang. Membaca mungkin bisa dilakukan oleh semua orang. Ya, setiap orang bisa menjadi pembaca.
Membaca adalah bentuk apresiasi dari tulisan. Jika
tulisan adalah kehidupan yang tertuang dalam bahasa kata-kata, maka membaca
adalah melihat kehidupan orang lain bersama suasana emosi yang diciptakan
penulisnya. Kerap kali kita membaca sebuah tulisan dan kita tenggelam di
dalamnya. Terkadang kita mengambil pelajaran dari tulisan. Ya, banyak keajaiban
yang hadir dari suatu kegiatan yang bernama “membaca”.
Membaca mengajak kita melihat jendela kehidupan orang
lain. Di sana kita bisa belajar, ditegur, dinasehati, dan mendapatkan
pencerahan. Di sana kita bisa tertawa,
bahagia, bahkan menitikkan air mata. Dengan membaca, sejatinya kita menadah
sungai-sungai ilmu, yang dengannya dapat merampas kebodohan dan menggantinya
dengan pengetahuan. Jika buku adalah jendela dunia, maka membaca sesungguhnya
adalah gerbang menuju kehidupan pengetahuan yang tanpa batas.
Saya beruntung ketika SD saya diajarkan alfabet,
karena itu menyadarkan saya bahwa ternyata hidup itu memerintahkan untuk terus
membaca, membaca dan membaca. Bahkan ayat Al-Quran yang pertama diturunkan
memerintahkan untuk “membaca”. Namun saya heran pada orang-orang yang enggan
membaca, mereka bisa membaca, tapi enggan membaca. Ah, mungkin mereka sudah
lupa bahwa buku adalah jendela dunia.
Saya suka membaca apapun. Buku, novel, cerpen dan
motivasi adalah santapan saya. Namun seiring berkembangnya teknologi bertambah
pula media untuk ilmu pengetahuan dan membaca. Di internet sudah sangat banyak
tulisan-tulisan yang beredar. Jadi lebih banyak media yang ditawarkan untuk
lebih menggiatkan budaya membaca.
Dengan membaca, saya bisa tahu bagaimana hati seorang
ibu yang membesarkan buah hatinya. Dengan membaca saya jadi tahu bagaimana
rasanya sekolah di pedalaman nun disana, yang serba terbatas, namun begitu
hidup sikap untuk menuntut ilmu. Dengan membaca, saya juga bisa tahu bagaimana
cerita seorang mahasiswa yang berjuang keras untuk bisa terus kuliah. Dengan
membaca, saya menemukan warna kehidupan yang baru, yang berharga, yang bisa
saya petik hikmahnya. Dengan membaca, saya bahagia.
Oleh karena itu, membacalah! Karena dengannya sejuta
ilmu dapat kita rengkuh. Membaca, gerbang ilmu pengetahuan.
“Segala keranjang dapat penuh dengan diisi. Hanya keranjang ilmu yang kian diisi kian minta ditambah isinya.” Ali bin Abi Thalib
* * * * *
Way Kanan, 19 Februari 2012
Inu Anwardani




0 komentar nih!:
Poskan Komentar
Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!